Pernahkah kamu merasa suasana hati yang mendadak baik hanya karena mendengarkan musik favorit atau sekadar melihat karya seni yang membuat pikiran kita tenang? Benarkah musik dapat memengaruhi emosi atau suasana hati orang yang mendengarnya? Apakah musik dan karya seni bisa menjadi media terapi? Yuk, kita kupas lebih dalam!
Seni dan musik nyatanya bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga memiliki kekuatan luar biasa dalam memengaruhi emosi dan kesehatan mental (Rohrohmana, 2024). Berbagai penelitian menunjukkan bahwa di negara-negara maju, seni dan musik sering dimanfaatkan sebagai media terapi untuk membantu mengatasi stres, kecemasan, bahkan depresi (Muhajir, 2024). Dalam terapi seni, terdapat dua pendekatan utama yang digunakan, yaitu pendekatan aktif dan pendekatan pasif.
Pendekatan aktif melibatkan partisipasi langsung dalam kegiatan seni dan musik, seperti bernyanyi, memainkan alat musik, menciptakan musik, atau bergerak mengikuti irama musik. Saat seseorang mendengarkan musik yang positif atau menyenangkan, otak melepaskan hormon dopamin (Tita, 2024). Hormon dopamin berupa neurotransmitter yang berkaitan dengan perasaan bahagia dan senang. Inilah hal yang dapat membantu meningkatkan suasana hati dan mengurangi stres maupun kecemasan. Sementara itu, pendekatan pasif lebih berfokus pada menerima rangsangan dari seni dan musik, misalnya dengan mendengarkan musik atau menonton video musik. Kedua pendekatan ini memungkinkan individu mengekspresikan emosi yang sulit diungkapkan secara verbal, memberikan efek menenangkan, serta membantu memperbaiki suasana hati.
Terapi musik mulai diterapkan di Indonesia pada Maret, 2015 lalu oleh Conservatory of Music di Universitas Pelita Harapan (UPH) yang membuka klinik terapi musik untuk umum (Haryanto, 2020). Bahkan, terapi seni di negara-negara maju telah diterapkan sebagai bagian dari pengobatan. Klinik psikoterapi dan organisasi profesional terapi seni juga sudah banyak didirikan. Dalam pendekatan terapi seni, klien terapis seni menggunakan cat, tanah liat, pasir, kain, kertas dan pena, atau media lain untuk memahami dan mengekspresikan emosi mereka.
Musik dan seni bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga mempunyai kekuatan untuk membuat hati lebih adem dan mengurangi stres. Dari bernyanyi, main alat musik, sampai sekadar dengerin lagu favorit, semuanya bisa bantu mengelola emosi. Sains juga sudah membuktikan kalau musik bisa meningkatkan dopamin, hormon bahagia yang bikin mood naik. Maka dari itu, terapi seni dan musik sudah banyak dipakai di luar negeri untuk pengobatan, bahkan di Indonesia sudah mulai berkembang sejak 2015. Dengan berbagai metode, dari melukis sampai mendengarkan musik, seni bisa menjadi cara ampuh untuk mengekspresikan perasaan yang sulit diungkapkan. Jadi, kalau lagi butuh healing, coba deh eksplorasi seni dan musik, siapa tahu itu solusi terbaik buat kamu!
